marsshmalloow

16 May 2013

Kepadamu, Lelaki yang Membuatku Jatuh Hati Setiap Hari

Selamat pagi, Sayang. Lama sekali tak menyapamu, juga memeluk rindumu dari jauh.

Sepuluh bulan kurang sehari, kehilangan sangat mengejutkan bukan? Tapi kehilangan, kita tak bisa menghindarinya. Yang bisa kita lakukan hanya menunda. Dan mungkin aku, kamu — kita tak lagi mampu. Dari awal, kita adalah segala yang mustahil. Tapi cinta memang bebal. Membuat kita bertahan dalam jarak dan hal-hal lain yang tak pernah pasti.

Sepuluh bulan kurang sehari, masihkah kita ‘saling’? Kau tahu betapa rapuh kita. Betapa semesta tak menghendaki kita ada. Ada alasan-alasan yang mungkin sulit kaumengerti. Tapi percayalah, akupun berusaha dan memperjuangkan kita. Setidaknya agar bisa bersama sedikit lebih lama.

Sebab, kau tahu, pilihan apapun yang kuambil, tetap aku yang akan sakit. Ketika memilih mereka, aku harus mengorbankan kita. Saat memilihmu, aku harus mengorbankan mereka —separuh hidupku.

Tak memilihmu bukan berarti aku tak menyayangimu. Aku hanya tak ingin kamu sakit. Kamu pantas bahagia dengan perempuan yang lebih baik dariku. (Kau tahu betapa dadaku seakan pecah saat menulis ini). Aku tetap perempuan pencemburu, tapi ini bukan lagi tentang itu. Berbahagialah, tanpaku. Selamanya aku takkan rela kamu bersama orang lain, tapi aku harus.

Tentang cintaku yang katamu tak pernah penuh itu, mungkin kau benar. Yang kukira penuh mungkin hanya setengah, atau bahkan kosong bagimu.

Mungkin perpisahan memang takdir yang keji; takdir yang lupa menepati janji. Apalah kita; yang bersandar pada segala yang tak kekal.

Sedikitpun aku tak pernah menyesal jatuh cinta padamu. Aku pun tak menyesal ketika melepasmu. Sebab cinta tak selalu tentang menggenggam dan mempertahankan, tapi juga melepas dan merelakan.

KLISE? Aku setengah mati sampai pada keputusan ini. Menabah-nabahkan hati. Meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja meskipun REMUK sebenarnya. Bukan hanya kamu yang menghadapi kehilangan dan hari-hari sulit setelahnya. Aku pun sama.

Sepuluh bulan lewat empat hari, maaf tak bisa jadi kekasih yang baik. Semoga kekasih barumu yang cantik itu, juga baik untukmu. :)

13 May 2013

“Pagi ini aku ingin mengenangmu dengan perasaan bahagia saja. Tanpa sedih. Tanpa pedih.”

13 May 2013

“Kelak kau akan mengerti, melepas adalah caraku mencintaimu dengan ikhlas.”

13 May 2013

“Sepuluh bulan kurang sehari; kehilangan yang mengejutkan. Sepuluh bulan empat hari; kau dan seorang perempuan. Lalu aku, adalah hari-hari yang raib dari ingatan.”

13 May 2013

“Dinding-dinding bisu, bantal basah, dan kesedihan yang terlambat kauketahui. Ini pagi yang sempurna untuk merayakan duka.”

13 May 2013

“Akan ada hari-hari di mana bernafas adalah jalan lain menuju rasa sakit; menuju maut. Menuju segala, yang kemudian tak ada.”

13 May 2013

“Cinta itu saling, bukan paling.” katamu. Tapi saling saja ternyata tak pernah cukup. Betapa rapuh kita. Betapa kuat semesta yang tak menghendaki kita ada.”

13 May 2013

“Aku meminjam rasa sakit pada jarak. Untuk kutuliskan pada sebuah sajak. Tentang perasaan yang retak.”

13 May 2013

“Entah ini ajaib, aku yang mabuk, atau aku memang sudah gila. Tapi pagi ini aku terbangun dengan bau parfummu yang menempel di bajuku. Selamat pagi, lelaki(ku)!”

13 May 2013

“Congratulations, you completely broke my heart. Sincerely, a fool.”

9 May 2013

“Sengaja kuhapus lagu-lagu cengeng dari playlist pagi ini, supaya setidaknya aku bahagia. Tapi sungguh, aku hanya ingin menangis sepuas-puasnya.”

9 May 2013

Sekarang, kalau kangen kamu, gak bisa ngalem-ngalem lagi. Gak bisa ngerecokin kamu kerja sambil merengek bilang kangen lagi. Sekarang, kalau kangen kamu, cuma bisa nangis sampai capek terus ketiduran. Hehehe.

Aku kangen, kamu? :)

9 May 2013

“Sebab kita butuh sembuh dari patah hati ini. Temukan perempuan lain yang mampu mencintaimu, lebih dariku. Meskipun aku tak bisa berjanji, akan mencintai lelaki — selainmu.”

8 May 2013

Selamat pagi, Sayangku.
Sudah mandi?
Sudah sarapan?
Sudah kangen?

Aku kangen. :)

8 May 2013

“Sebab hari-hari setelah kau tak ada, adalah pedih yang sebenar-benarnya.”